Berdasarkan informasi yang dihimpun, banjir bandang terjadi pada Senin (5/1/2026) pukul 03.00 Wita. Peristiwa tersebut diduga dipicu curah hujan yang sangat tinggi di wilayah Kabupaten Sitaro atau Kepulauan Siau.
Banjir bandang membawa material batu, kayu, dan lumpur menyebabkan kerusakan pada permukiman warga, fasilitas umu serta menimbulkan korban jiwa. Empat kecamatan dilaporkan terdampak, yakni Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.
Untuk sementara waktu, para korban banjir bandang Sitaro mengungsi di sejumlah titik aman. Di Gereja Betabara Paseng tercatat sebanyak 37 kepala keluarga atau 105 jiwa, sementara di Museum Ulu terdapat 54 kepala keluarga atau 287 jiwa. Total pengungsi di dua lokasi tersebut mencapai 91 kepala keluarga atau 392 jiwa.
Merespons kondisi darurat tersebut, Bupati Sitaro telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir bandang melalui Surat Keputusan Nomor 1 Tahun 2026. Status tanggap darurat berlaku selama 14 hari, terhitung mulai 5 hingga 18 Januari 2026.
Saat ini, Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Utara bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) sedang dalam perjalanan menuju Kepulauan Siau menggunakan kapal laut. Tim membawa bantuan logistik tambahan sekaligus menyiapkan pendirian dapur umum bagi para pengungsi.
Pemenuhan kebutuhan pengungsi dilakukan melalui pembelanjaan langsung karena keterbatasan akses menuju lokasi bencana yang hanya dapat dijangkau menggunakan perahu dengan kapasitas angkut terbatas. Kemensos kirim bantuan korban banjir bandang Sitaro diharapkan dapat meringankan beban warga terdampak serta mempercepat pemulihan pascabencana.