"Saya mengabdi sejak tahun 1984. Semenjak tahun 2000 gaji sudah tidak lagi mengikuti UMP, gaji saya perbulan Rp1,4 juta," kata Nortje selaku pegawai tata usaha SMA.
Dia juga mengaku sejak 2019 pembayaran gaji sering tertunda, ada yang nanti dibayarkan sekaligus empat bulan, bahkan tahun kemarin gaji sejak bulan Juli sampai Desember 2020 nanti dibayarkan di bulan April 2021.
"Jadi ini sudah yang kedua kali, bahkan kami juga sampai saat ini tidak ada pembayaran apapun dari yayasan, baik dari yayasan di sekolah ini dan Sinode. BPJS sama sekali tidak ada, jadi upah paling minimun dan tidak ada fasilitas lain-lain, terlebih BPJS.
Dia berharap kiranya pihak yayasan segera membayarkan gaji mereka karena dia tidak punya usaha lain, hanya menggantungkan diri dari gaji sebagai pegawai. Selain itu dia juga punya anak yang butuh biaya untuk kuliah sehingga sangat diharapkan topangan dana.
"Harapan sangat besar untuk segera dicairkan, karena ini sudah sembilan bulan, rasa-rasa sudah tidak makan ini, tapi Tuhan masih sayang boleh diberi dari tempat yang lain,” ujarnya.
Dia berharap gaji segera dibayarkan, dan kalau bisa bayar setiap bulan, karena sekalipun dibayar satu kali besar, hanya untuk tutup lubang, hanya untuk membayar utang.