Kesepakatan tersebut ditandatangani 2015, dan secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan, yang menawarkan keringanan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya. Israel menilai kesepakatan itu terlalu memberikan anging untuk Teheran dan menentang upaya AS dan Uni Eropa untuk memulihkannya.
Pada Sabtu (10/9/2022) lalu, Inggris, Prancis, dan Jerman menyatakan keraguan mereka akan niat Iran untuk menghidupkan kembali perjanjian tersebut. Teheran lantas bereaksi dengan mengatakan bahwa pernyataan tiga negara Eropa itu tidak konstruktif.
Di masa pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump, Washington DC menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran itu pada 2018. Senada dengan Israel, Trump berdalih, perjanjian itu terlalu lunak terhadap Iran.
Sejak itu, Amerika Serikat menerapkan kembali sanksi besar-besaran terhadap Teheran.
Iran berkeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.