Dilansir dari Daily Star, kemerdekaan Sudan Selatan dari Sudan pada 2011 membawa harapan luas untuk kemakmuran dan perdamaian bagi 12 juta penduduk negara itu. Sayangnya, hanya sedikit yang terwujud.
Menurut PBB, Sudan Selatan memiliki prevalensi pernikahan anak tertinggi kelima di dunia. Praktik tersebut dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia, hambatan serius untuk melek huruf dan penyebab utama kemiskinan yang terus-menerus.
UNICEF menyebut, sekitar sepertiga anak perempuan di negara itu hamil sebelum berusia 15 tahun.
Meski demkian, di luar dugaan, beberapa gadis Sudan Selatan telah melawan kebiasaan tersebut.
“Saya menolak,” kata Nyanachiek Madit yang berusia 21 tahun.
Hal itu dia lakukan ketika ayahnya mengatakan dia akan menikah dengan seorang pria berusia sekitar 50 tahun. Hal itu dilakukan karena keluarganya tidak mampu menyekolahkannya. Saat itu, Madit masih berusia 17 tahun.