Awalnya, mereka buka mulai pukul 12.000 hingga 21.00 WIB. Harga steak yang dijualnya pun murah sekali saat itu Rp3.500 hingga Rp5.000.
"Biar orang datang dulu, profit enggak bisa besar, yang penting orang banyak datang," ujar Jody.
Dia menuturkan, enam bulan awal perjuangannya luar biasa. Omzetnya hanya sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000, bahkan pernah tak ada pembeli sama sekali. Namun setelah pada bulan ketujuh, usahanya berkembang setelah diliput oleh media lokal Yogyakarta.
Pembeli banyak yang datang dan omzet usahanya terus bertambah hingga akhirnya dia bisa membuka beberapa cabang. Pada akhir Desember 2000, dia telah memiliki 4 cabang. Setelah 22 tahun berdiri, Waroeng Steak and Shake saat ini sudah memiliki 107 cabang dengan 1.500-an karyawan.
Dia menceritakan, rahasia Waroeng Steak and Shake sukses terletak pada kekuatan doa dari seluruh karyawannya dan sedekah.