“Evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus dan saat ini jenazah dibawa menuju Posko Tompobulu untuk kemudian diserahkan ke tim DVI,” katanya.
Menurut Arif, operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 ini melibatkan kekuatan besar dengan total 1.075 personel dari berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, komunitas pecinta alam hingga tenaga medis.
Selain personel, sejumlah alutsista darat dan udara turut dikerahkan, di antaranya helikopter, pesawat intai, serta drone thermal guna mempercepat proses pencarian di medan ekstrem.
“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini merupakan wujud nyata sinergi dan misi kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan personel di lapangan,” ucapnya.
Hingga berita ini diturunkan, operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 jatuh di Pangkep masih terus berlangsung dan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kondisi cuaca di lokasi kejadian.
“Sore ini, tim SAR gabungan fokus melanjutkan pencarian dan evakuasi di beberapa sektor dengan membagi kekuatan menjadi enam Search and Rescue Unit (SRU), termasuk SRU darat dan vertical rescue,” ujar Arif.