Menurut dia, abrasi ditambah dengan cuaca ekstrem akan semakin mengancam ratusan keluarga di wilayah desanya. Mereka berpotensi kehilangan tempat tinggal karena dataran tanah terkikis abrasi.
Karena itulah warga berupaya membangun penahan seadanya. Tanggul berfungsi dan dijadikan sebagai pembatas dengan harapan, mampu meminimalisasi dampak abrasi, karena hempasan ombak gelombang laut yang semakin masuk ke permukiman.
BACA JUGA: Akibat Gelombang Tinggi, Kawasan Wisata Tope Jawa di Takalar Sepi Pengunjung
"Sepekan terakhir ini, abrasi sudah mencapai lima meter dari bibir pantai. Jika terus menerus tergerus, dampak abrasi itu dipastikan akan masuk sepenuhnya ke kawasan pemukiman warga," ujarnya.
Kondisi ini disebutkan Kaswandi bahkan telah berlangsung selama kurun waktu dua tahun terakhir. Tepatnya sejak 2018 lalu dan kian memprihatinkan. Sebab, warga mulai mengalami kerugian materiil.
"Kerugian materiil akibat dampak dari abrasi di kawasan pesisir Desa Sampulungan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah," kata Kaswandi.