“Ya, sama keluarga ayah, ibu dan adik. Kalau pas libur sekolah dan kuliah,” katanya.
Nur Aini mengaku rela menjadi buruh angkut semen demi membantu ekonomi keluarga dan biaya kuliah serta sekolah adik-adiknya.
“Bantu-bantu ekonomi keluarga, juga buat biaya kuliah saya dan sekolah adik-adik saya,” ucapnya.
Ditanya soal pendapatannya, Nur Aini mengaku tidak menentu bergantung ada tidaknya kiriman semen. “Biasanya satu truk itu bawa 850 sak semen. Satu sak semen itu dibayar Rp600,” ucapnya.
Ayah Nur Aini, Masdar mengaku sudah lama menjadi buruh angkut semen. Dia mengakui tidak melarang anaknya untuk ikut berkerja jadi buruh angkut semen.
“Ya, ikut semua anak istri. Kalau anak libur sekolah ikut bantu angkut semen,” ucapnya.