Kegiatan dari tradisi ini biasanya dipimpin oleh tetua adat yang akan memimpin doa, membaca mantra, serta memberikan aba-aba dalam proses pemindahan rumah. Tradisi ini memiliki makna berupa gotong royong yang dilakukan oleh para lelaki dan para wanita menyiapkan berbagai makanan untuk kegiatan ini.
Sigajang laleng lipa merupakan suatu tradisi khas dari Suku Bugis. Tradisi ini berupa tarung dalam sarung. Tradisi pun hanya dijalani oleh kaum laki-laki.
Jika masalah pribadi tidak menemukan jalan keluar, penyelesaiannya dilakukan secara jantan dengan cara berkelahi hidup mati satu lawan satu dalam sarung.
Tradisi ini awal mulanya terjadi di masa Kerajaan Bugis terdahulu dan merupakan sebuah upaya terakhir untuk menyelesaikan masalah adat yang tidak menemukan jalan keluar. Meskipun nyawa yang akan menjadi taruhan, tetapi harga diri tetap dilakukan.
Filosofi dari tradisi ini untuk mengingatkan agar suatu masalah di cari solusi terbaik tanpa badik. Hal ini juga dilakukan dengan musyawarah yang melibatkan dua belah pihak yang bermasalah serta dewan adat.