5 Suku Unik di Papua, Masih Pegang Teguh Adat Istiadat Nenek Moyang

Amelia Ayu Aldira
Suku Dani, salah satu suku unik di Papua yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Suku unik di Papua menjadi salah satu keragaman di Indonesia. Papua memiliki beragam suku dengan bahasa yang berbeda-beda. Tak heran, Papua menjadi salah satu daerah yang dikenal dengan kekayaan budayanya.

Papua merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Nugini bagian Barat atau West New Guinea. Papua sering disebut sebagai Papua Barat dan Papua dapat merujuk ke Papua Nugini Timur atau seluruh Pulau Nugini, termasuk belahan timur Papua Nugini.

Papua sebelumnya disebut Irian Barat atau Irian Jaya. Papua memiliki suku yang berbeda, ada sekitar beberapa ratus suku. Selain terdapat banyak suku, Papua juga terkenal dengan kekayaan alamnya yang tersembunyi.

Jutaan orang dari seluruh dunia tertarik ke pulau ini. Selain kaya akan sumber daya alam, keindahan alam Papua adalah surga dunia dan sangat menarik.

Papua memiliki banyak suku, dari suku-suku ini masih primitif dan berpegang teguh pada adat istiadatnenek moyang mereka.

Berikut 5 suku terunik di Papua :

1. Suku Asmat

Sebagai suku paling populer di Papua, tentu menarik dan berbeda dengan suku-suku lain di Indonesia. Suku Asmat memiliki populasi terbesar di Papua, ditemukan di pedalaman dan di pantai. Kebudayaan mereka mencerminkan kehidupan masyarakat.

Begitu pula dengan masyarakat Asmat yang budayanya melambangkan kehidupan mereka. Bagi mereka, budaya bukan hanya genetik, melainkan lebih dari pola dan tujuan besar yang tersimpan di dalamnya.

Sebagai suku oriental yang unik, tentunya memiliki keragaman budaya. Keanekaragaman yang dimiliki suku Asmat salah satunya adalah upacara Adat Suku Asmat.

Upacara ini tentu berbeda dengan suku lainnya. Upacara adat yang dimiliki Suku Asmat ini seperti Ritual Kematian. Menurut mereka, kematian itu tidak wajar. Kematian didefinisikan sebagai kehadiran roh-roh jahat yang mengganggu almarhum.

Ketika seorang kerabat sakit, mereka membangun pagar dari cabang-cabang pohon palem. Pagar itu dimaksudkan untuk mencegah roh-roh jahat yang berkeliaran di sekitarnya mendekati orang sakit.

Mereka juga mengerumuni orang sakit tanpa merawat atau memberi mereka makan. Tetapi, ketika orang sakit meninggal, mereka dipeluk dan berguling-guling di lumpur. 

Suku Asmat membawakan tarian pukul tifa pada Festival Budaya Suku Asmat ke-27 di Kabupaten Asmat, Papua. (Foto: Antara).
Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Gempa Hari Ini Guncang Mamberamo Tengah Papua, Cek Kekuatan Magnitudonya!

57 tahun lalu

Pilu! 5 Korban Tewas Ledakan Bom PD II di Biak Dimakamkan dalam Satu Liang Lahat

57 tahun lalu

Terungkap! Ini Identitas 5 Korban Tewas Ledakan Bom Peninggalan PD II di Biak Papua

57 tahun lalu

OPM Kembali Berulah, TNI Evakuasi Puluhan Pendulang Emas dari Awimbon ke Boven Digoel

57 tahun lalu

Pengamat Militer Bongkar Alasan KKB Selalu Serang Pekerja Proyek dan Guru di Papua 

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal