Bagi Yaung, ketika infrastruktur penunjang transportasi telah dibangun dengan sempurna di Papua Pegunungan, para wisatawan akan dimanjakan pemandangan yang menyerupai keindahan Pegunungan Alpen di Swiss ketika melalui jalur darat.
Tak cukup sampai di sana, dia dengan semangat mengisahkan tentang Danau Habema seluas 224,35 hektare. Danau itu dia yakini merupakan peninggalan masa purba. Alih-alih tawar, danau itu justru memiliki air asin dan terdapat beragam fauna.
Bahkan kehadiran danau itu bukti bahwa pada zaman Nabi Nuh, air bah benar-benar terjadi dan menutupi hingga ke wilayah atas, mengingat lokasi danau ini yang berada di ketinggian 3.225 meter dari permukaan laut, hampir setinggi puncak Gunung Semeru di Pulau Jawa yang mencapai 3.676 meter dari permukaan laut.
“Ini menjadi jejak bahwa memang air bah itu ada,” kata dia.
Akan tetapi, tanpa akses yang mudah dan pemasaran yang andal, dunia tidak akan pernah mengetahui betapa cantiknya Danau Habema, apalagi mengetahui kisah menarik yang diyakini sebagai latar belakang dari hadirnya danau tersebut.
Danau Habema tidak hanya memiliki pemandangan, tetapi juga nilai historis yang sangat mendalam sehingga nilai jualnya yang begitu tinggi. Akan sangat disayangkan apabila tidak dimaksimalkan.