Dalam penampilannya, pukulan eme akan mengiringi nyanyian yang biasanya berupa cerita legenda, pantun atau petuah kebajikan. Partisipan dalam acara adat tersebut akan ikut menari beriringan dengan bunyi pukulan eme.
Dalam pembuatan eme juga cukup menarik perhatian. Pada mulanya, digunakan campuran kapur dari bia dan darah manusia yang dioleskan di sekitar ujung eme untuk merekatkan kulit biawak yang berfungsi sebagai bagian tabuh dalam alat musik eme.
Orang-orang suku Kamoro meyakini bahwa kulit yang direkatkan dengan campuran bia dan darah manusia dapat menghasilkan suara yang lebih baik. Namun belakangan, penggunaan darah manusia telah digantikan dengan getah pohon mangi-mangi atau getah pohon ote yang juga berwarna merah.
Untuk menghasilkan bunyi yang berbeda-beda dan bervariasi, kulit eme ditempeli getah damar yang dibentuk menjadi bulatan kecil. Semakin banyak bulatan getah yang ditempelkan, maka suara yang dihasilkan akan semakin rendah.
Guoto terbuat dari bilah bambu yang bagian atasnya disayat hingga menjadi senar. Senar tersebut ditumpu kayu sehingga dapat menghasilkan bunyi.