Jumlah peluru yang telah menancap di tubuhnya tak terhitung. Seragam loreng yang dikenakan Pratu Suparlan berubah warna menjadi merah akibat darah yang mengucur deras dari luka-lukanya.
Pratu Suparlan tak kenal menyerah. Saat dia tiba pada ambang kesanggupannya, Suparlan terduduk dan tak lagi mampu menggenggam pisau komandonya. Dia kehabisan darah. Namun, dia tak pernah kehabisan akal dan semangat untuk membela NKRI.
Pasukan Fretilin yang melihat Suparlan kehabisan daya segera mengerumuninya. Mereka menembak lehernya saat prajurit Kopassus itu sudah ambruk.
Namun, akhir hayat Suparlan akan selalu dikenang. Saat musuh mendekat, di antara sisa-sisa tenaga yang ada, Suparlan mengambil sesuatu dari kantongnya. Dalam hitungan detik, dicabutnya pin granat, lalu dia melompat ke arah kerumunan Fretilin di depannya seraya berteriak, “Allahu Akbar.”
Dentaman keras membahana, mengiringi robohnya puluhan prajurit komunis, bersama seorang prajurit Kopassus bernama Pratu Suparlan. Sang prajurit komando itu gugur demi Ibu Pertiwi yang dicintainya.
Kisah heroik Pratu Suparlan ini menjadi salah satu yang dicatatkan dalam sejarah Kopassus. Kopassus lahir pada 16 April 1952. Cikal bakal kesatuan elite ini dimulai dari Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD yang merupakan bagian dari Komando Utama (Kotama) tempur TNI AD.
Kisah kepahlawanan dan kehebatan Suparlan dalam operasi militer di Timor Timur, 9 Januari 1983 ini telah dikisahkan Majalah Baret Merah edisi April 2014 dan diunggah dalam laman Kopassus.