Mendapat laporan, personel Polsek Bokondini langsung turun ke lokasi sekitar pukul 13.55 WIT. Polisi berupaya melerai bentrokan, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Tembakan peringatan yang dilepaskan justru memicu kemarahan massa.
Akibatnya, aparat kepolisian menjadi sasaran serangan. Anggota diserang menggunakan batu dan senjata tajam hingga terpaksa menyelamatkan diri.
Salah satu anggota, Aiptu Dominggus Gannaran sempat terpisah dari rombongan. Dia mengalami penganiayaan, dan senjata api jenis revolver miliknya dirampas warga diduga punya riwayat gangguan kejiwaan.
Akibat insiden tersebut, empat personel polisi mengalami luka-luka. Sementara satu warga bernama Ereki Wunungga (18) meninggal dunia dan masih dalam proses penyelidikan.
Seusai kejadian, Polres Tolikara langsung mengambil langkah cepat. Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw memimpin penguatan personel dan pengamanan wilayah. Pada Rabu (15/4/2026), aparat menggelar pertemuan dengan tokoh adat, tokoh agama, pemerintah distrik, serta unsur TNI. Pendekatan persuasif dilakukan untuk meredam konflik.