7 Kain Tenun Khas Indonesia dari Berbagai Daerah yang Sarat Akan Makna

Sintia Putri Balqis
Kain Tenun Khas Indonesia dari Berbagai Daerah, Kain Ulos (Foto: Antara)

Kain Ulos

Kain Tenun Khas Indonesia dari Berbagai Daerah, Kain Ulos (Foto: Antara)

Kain Tenun Khas Indonesia berikutnya berasal dari suku Batak. Kain Ulos biasa menggunakan benang kapas yang telah diwarnai. Proses pembuatan Kain Ulos memerlukan waktu lama dan dengan pembuatan yang unik. Tak heran, banyak sekali wisatawan yang ingin menyaksikan langsung pembuatan kain ini. Biasanya Kain Ulos dapat kamu temukan di Desa Tongging, Desa Paropo dan Desa Silalahi.

Seperti kain tenun lain, Kain Ulos juga memiliki beragam jenis. Jenis kain yang pertama, Kain Ulos Sibolang. Kain Ulos jenis ini yang banyak digunakan. Kain Ulos Sibolang berwarna biru tanpa pola mata panah. Ulos ini biasanya digunakan sebagai sarung atau selendang.

Jenis kedua dari Kain Ulos, yaitu Ulos Ragi Hotang, merupakan kain yang memiliki tepi lebar dan berjumbai. Jenis Kain Ulos ini biasa digunakan pada acara pernikahan adat, karena menyimbolkan kasih sayang.

Selanjutnya, Kain Ulos Ragi Hidup. Kain ini biasanya hanya digunakan laki-laki. Namun, seorang janda juga dapat menggunakan Ulos jenis ini di beberapa upacara tertentu. Kain jenis ini memiliki motif yang unik, yaitu dua strip bidang pada bagian atas dan bawah, serta tersedia beragam warna yang indah.

Kain Tenun Sasak

Kain Tenun Khas Indonesia dari Berbagai Daerah ada Kain Tenun Sasak yang berasal dari Lombok ini tak kalah indah dari kain tenun lainnya. Pasalnya, kain ini sangat berkaitan erat dengan suku Sasak. Nama Sasak dalam kain ini juga disebut sebagai sèsèk, yang artinya “sesak”, karena cara menenun kain yaitu dengan memasukan benang satu persatu yang disebut sak sak, hingga benang sesak dan padat.

Umumnya, kain tenun ini masih digunakan oleh perempuan di suku Sasak dalam kehidupan sehari-hari. Ragam motif Tenun Sasak dipengaruhi agama yang dianut. Sebelum Islam masuk dalam suku tersebut, motif kain tenun didominasi bentuk tumpul atau pucuk rebung sebagai perwujudan Dewi Sri yang mana menjadi dewi kemakmuran. Setelah islam masuk, motif tumbuhan, seperti sulur, pucuk rebung, pohon hayat, dan bunga bersusun mendominasi kain ini. 

Para pengrajin Tenun Sasak yang kebanyakan perempuan ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan kain ini. Dengan tekstur yang tebal, tidak mudah kusut dan luntur, kain ini tak hanya indah, tapi memiliki kualitas yang sangat baik.

Kain Gringsing

Kain Gringsing, menjadi salah satu warisan budaya kuno Bali yang masih lestari sampai saat ini. Kain yang berasal dari Desa Tenganan ini berasal dari kata ‘gring’ yang artinya sakit dan ‘sing’ yang artinya tidak, maka kain ini dimaknai sebagai kain magis yang membuat pemakainya terhindar dari kesialan.

Fakta menariknya, Kain Gringsing merupakan satu-satunya tenun ikat ganda yang berasal dari Indonesia. Kain ini masih digunakan dalam upacara keagamaan oleh masyarakat Tenganan Bali hingga hari ini. Dengan proses pembuatannya yang cukup sulit dan lama, bahan yang digunakan dalam pembuatan kain ini juga sangat terbatas. Maka dari itu kain ini dijual dengan harga yang cukup mahal.

Kain Lurik

Kain Tenun Khas Indonesia dari Berbagai Daerah, Kain Lurik (Foto: iNews.id/Kuntadi)

 

Kain Tenun Khas Indonesia dari Berbagai Daerah ada Kain Lurik yang berasal dari Yogyakarta ini bermakna unik dengan tampilan yang menarik. Kata ‘lurik’ sendiri berasal dari bahasa Jawa ‘lorek’, yang berarti garis-garis, yang mana merupakan lambang kesederhanaan. 

Kain ini awalnya berbentuk selendang yang digunakan sebagai kemben atau alat menggendong. Namun, seiring berkembangnya waktu, Kain Lurik digunakan sebagai pakaian pria maupun wanita seperti beskap dan jarik atau kebaya. 

Pada dasarnya kain ini hanya bermotif garis-garis. Namun ada tiga motif garis dasar yaitu, Motif Lajuran dengan corak garis-garis panjang searah dengan helai kain, Motif Pakan Malang yang memiliki garis lebar, dan Motif Cacahan dengan corak kecil-kecil.

Kain ini serat akan makna filosofi dan berhubungan erat dengan kepercayaan. Ada corak yang dianggap sakral dan dijadikan sumber nasihat dan petunjuk. Lurik Gedog Madu contohnya, lurik ini biasanya digunakan dalam upacara adat mitoni ataupun siraman.

Kain Kanekes

Kain Kanekes yang berasal dari suku Kanekes, di pedalaman Provinsi Banten, merupakan wujud dari ketaatan yang dilakukan para perempuan terhadap adat turun temurun. Kain ini sangat unik dan memiliki nilai kearifan lokal yang kuat, karena itu kain ini menjadi ciri khas masyarakat Kanekes.

Tenun masyarakat Kanekes diyakini mengungkapkan estetika dari alam sekitar pegunungan Kendeng. Dengan corak yang mencerminkan kehidupan dan adat istiadat, kain ini diproduksi dengan ragam hias yang mencerminkan filosofi hidup.

Dalam masyarakat Kanekes Luar (Baduy Luar), kain ini dihasilkan dengan warna hitam dan biru tua yang sangat mendominasi. Sedangkan untuk masyarakat Kanekes Dalam (Baduy Dalam), kain ini didominasi dengan warna putih, yang diyakini memiliki arti suci sekaligus aturan yang belum terpengaruh budaya luar.

Itulah deretan kain tenun khas Indonesia dari berbagai daerah yang dirangkum iNews.id dari berbagai sumber.

Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Pameran Seni MULAK Rotua Magdalena Pardede: Pulang ke Akar Budaya Batak

57 tahun lalu

Ganjar Pranowo Disambut Tarian Tortor Sombah hingga Dipakaikan Kain Ulos saat Kunjungi Sumut

57 tahun lalu

20 Gorengan Khas Indonesia dari Berbagai Daerah, Nomor 3 Khas Lampung Menggugah Selera

57 tahun lalu

Sowan ke Syekh Ali Akbar Marbun di Medan, Ganjar Pranowo Dihadiahi Rajanya Ulos

57 tahun lalu

Agar Tak Dibajak, Warga Pulau Maringkik Daftarkan Hak Cipta Produk Kain Tenun

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal