Kapolda NTB itu tak memungkiri dinamika di tengah masyarakat tak terhindari, namun bila seluruh elemen bergandengan tangan maka permasalahan dapat teratasi dengan solusi.
“Semoga dengan kita duduk bersama, bersilaturrahmi dan berdoa, semua permasalahan akan segera mendapatkan titik temu dan solusi. Amin,” ucapnya.
Rois Syuriah PCNU Lombok Tengah, TGH Ma’rif Makmun Diranse menyinggung masalah penggantian nama Bandara Internasional Lombok (BIL). Dia meminta semua pihak menempatkan kedamaian sebagai prioritas.
“Persoalan bandara jangan diributkan, jangan sampai membenturkan pemuka-pemuka atau pimpinan NU dan NW. Karena mereka (warga NW) adalah sahabat atau teman,” ujar Pimpinan Ponpes Manhalul Ma’arif Darek itu.
Perwakilan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) TGH Yusuf Makmun mengatakan hidup pasti beriringan dengan masalah, termasuk soal pergantian nama bandara. Namun permasalahan tidak semestinya membuat antarmanusia bermusuhan dan menciptakan konflik sosial yang berkepanjangan.
"Perbedaan jangan menjadikan suatu masalah, karena sudah sewajarnya dalam hidup pasti ada masalah. Mari jadikan perbedaan menjadi sebuah kebersamaan. Soal nama bandara, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah,” tuturnya.
Gelaran doa bersama juga dihadiri Mustasyar PBNU yang juga Pengasuh Yayasan Ponpes Qamarul Huda Bagu TGH Lalu Turmudzi Badruddin, Ketua MUI NTB, Prof H Syaiful Muslim, Ketua PWNU NTB Prof Dr TGH Masnun Tahir, para tokoh agama dan masyarakat (togama) serta tokoh pemuda Lombok Tengah, para tokoh organisasi NW, dan para Pejabat Utama (PJU) Polda NTB.