“Sayangnya struktur sesar yang melintas di Kairatu Selatan itu belum memiliki nama, sehingga untuk memudahkan menyebutnya dapat kita namai Sesar Kairatu,” kata Daryono.
Dari hasil monitoring tersebut BMKG juga mendapati ternyata sebelum terjadi gempa M6,5 Kamis pagi, tampak di Kairatu Selatan sudah terjadi sejumlah rentetan aktivitas gempa pembuka atau foreshocks berkekuatan kecil sejak sekitar sebulan lalu.
Peta seismisitas Maluku menunjukkan bahwa di sekitar episenter gempa Kamis pagi terdapat klaster aktivitas gempa dengan magnitudo antara 1,5 hingga 3,5 sebanyak 30 kali, tercatat sejak 28 Agustus 2019 hingga 25 September 2019.
Gempa ini menjadi contoh nyata mengenai keberadaan “Gempa Tipe 1” menurut ahli gempa Jepang, Kiyoo Mogi (1963), yaitu tipe gempa utama yang didahului oleh gempa pendahuluan atau pembuka dan selanjutnya diikuti oleh serangkaian gempa susulan.