Kursi Termahal
Dua orang sahabat, Ari dan Dani tengah bersantai di bawah pohon rindang
Sambil menikmati minumannya, keduanya melemparkan lelucon-lelucon ringan. Suatu ketika, Ari menanyakan hal menarik kepada Dani.
“Dan, kursi, kursi apa yang harganya mahal?”
Dani berpikir sesaat, lalu menjawab, “Kursi jati bertahtakan emas dan berlian.”
“Salah. Coba tebak lagi!”
“Hmm, apa yah? Kursi berteknologi tinggi?”
“Masih salah. Ingin tahu?”
“Memang kursi apa?”
“Kursi DPR. Coba saja kamu lihat. Calon anggota DPR rela habisin uang bermilyar-milyar cuma buat duduk di sana. Padahal kursinya sama saja sama kursi di rumah, “ jawab Ari sambil terkekeh.
“Benar juga kamu. Politikus kebiasaan money politic buat menarik simpati rakyat.”
Melalui leluconnya, Ari mencoba mengkritik perilaku para politikus yang suka membagikan uang demi mendapatkan jatah di pemerintahan.
Penjual roti sedang menjajakan dagangannya saat pagi hari.
“Pak, mau beli rotinya!” teriak anak SD lengkap dengan seragamnya.
“Mau yang mana, coklat atau keju?” tanya si penjual.
Anak kecil itu berdiri termenung cukup lama.
“Nggak jadi, deh. Tadi katanya jual roti, kenapa jadi coklat sama keju?”
Ada seorang tukang becak asal Madura yang dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “Becak dilarang masuk”.
Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.
“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini!” bentak Pak Polisi.
“Oh saya melihat Pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.
Pengemis Tua : “Nak, berilah sedekah, Nak,” pinta pengemis itu.
Pemuda : “Tolong kembalikan lima ribu itu, Kakek,” katanya.
Pengemis Tua :'Ini, Nak, kembaliannya.'
Pemuda :“Nah, Kakek, kok kembaliannya sembilan ribu, itu banyak?” tanya pemuda itu heran.
Kakek :'Oh, tidak apa-apa, Nak. Anggap saja saya sedang bersedekah.’
Dudung dipanggil Bu Guru Yani saat jam istirahat sekolah.
“Dudung, ibu tidak melihat jawaban kamu di esai. Hanya ada tulisan benar,” kata Bu Yani sambil menunjukkan kertas ulangan Dudung.
“Oh, kan perintahnya begitu, Bu. Disana bilangnya harus mengisi setiap jawaban dengan ‘Benar’. Jadi, saya tulis jawaban benar di esai. Dudung pintar kan, Bu?”
Nah, itulah contoh teks anekdot beserta strukturnya yang bisa menjadi referensi untuk belajar.