Menurut dia, untuk mencari solusi persoalan itu, dibutuhkan dukungan data yang konkret dari ketersediaan dan kebutuhan komoditas itu baik supply dan demand-nya. Begitu juga rantai distribusi komoditas tersebut serta supply-chain management.
"Di Indonesia hanya delapan provinsi penghasil besar singkong. Artinya ada 26 provinsi nonpenghasil dan kebutuhan produk turunan singkong digunakan banyak industri. Pabrik-pabrik itu tidak semua ada di provinsi penghasil. Artinya di sini kita bicara supply-chain management di dalam negeri,” katanya.
La Nyalla mengatakan, impor bukan jawaban untuk menyuplai kebutuhan bahan baku di pabrik-pabrik tersebut. Yang penting, distribusi dan alur pergerakan bahan baku ke daerah-daerah nonpenghasil itu.
"Makanya Presiden Jokowi concern dengan akses melalui infrastruktur, termasuk tol laut. Sebenarnya untuk menjawab supply-chain management tadi. Tinggal, bisa jalan atau tidak di lapangan. Ada yang menghambat atau tidak," katanya.
Dia juga mengatakan, saat menjabat ketua umum Kadin Jatim tahun 2012-2014, dia menggagas program misi dagang antarprovinsi. Bekerja sama dengan Pemprov Jatim, misi dagang Jatim membuka etalase produk di kantor-kantor perwakilan Pemprov Jatim di beberapa provinsi dan membuka forum temu bisnis, B to B. Hasilnya sangat signifikan untuk meningkatkan arus distribusi barang dari Jatim ke beberapa provinsi lain.