Penurunan harga cabai rawit menyumbang deflasi 0,13 persen pada Agustus seiring dengan pulihnya pasokan dari sentra produksi di Jawa yang sudah memasuki masa panen. Normalisasi harga angkutan udara juga turut menyumbang deflasi seiring menurunnya permintaan.
Berdasarkan data dari TPID Provinsi Kalteng, terdapat lima besar komoditas penyumbang inflasi bersumber dari Volatile Food (VF) dan Administered Price (AP) seperti tarif angkutan udara, bawang merah, beras, dan ikan tongkol serta ikan nila.
Sementara itu, kenaikan tarif PDAM dan rumah sakit di Sampit juga harus menjadi perhatian karena berdampak pada kenaikan laju inflasi Sampit, tentunya Provinsi Kaleng menjadi lebih tinggi. Andil tarif PDAM pada Oktober 2021 berdampak 42 persen terhadap inflasi Sampit dan 22 persen terhadap inflasi Kalteng, dan berangsur menurun hingga Juni 2022 masing-masing sebesar 23 persen dan 10 persen.
“Saya mengapresiasi upaya TPID dalam pengendalian inflasi, namun harus terus ditingkatkan diantaranya melalui Pelaksanaan Surat Instruksi Gubernur Kalimantan Tengah hal Penanganan Inflasi Kalteng tahun 2022 tanggal 3 September untuk Bupati/Wali Kota yang berisi langkah strategis dalam percepatan penanganan Inflasi di Kalimantan Tengah,” ucap Gubernur.
Langkah strategis dalam percepatan penanganan inflasi di Kalteng berdasarkan Surat Instruksi Gubernur Kalteng yakni, melaksanakan Program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), salah satunya melalui kegiatan Sekuyan Lombok yang merupakan Gerakan menanam cabai rawit di pekarangan rumah.