Argitoe Ranting mengatakan, meskipun kegiatan memindahkan orang utan ke hutan yang lebih baik untuk kehidupannya berlangsung sukses, translokasi hanya solusi sementara. Translokasi ini tidak bisa mengurai akar permasalahan sebenarnya karena permasalahan sebenarnya terletak pada alih fungsi dan kerusakan hutan.
Ancaman terhadap kelangsungan hidup orang utan bertambah sejak kebakaran besar melanda sebagian besar wilayah di Ketapang. Akibatnya, banyak orang utan kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupannya. Orang utan-orang utan ini pergi meninggalkan rumahnya yang terbakar dan masuk ke kebun warga untuk mencari makan.
"Ini yang menyebabkan tingginya jumlah perjumpaan manusia dengan orang utan. Tidak jarang kondisi ini menimbulkan konflik yang dapat merugikan orang utan dan manusia itu sendiri," katanya.
Sementara Direktur IAR Indonesia, Karmele L Sanchez mengatakan, Hari Orang Utan yang diperingati di seluruh dunia seharusnya menjadi pengingat kepada semua pihak agar bangga memiliki orang utan. Masyarakat juga harus ikut melakukan upaya sepenuh hati untuk melindungi dan menjaga mereka serta habitatnya. Namun sampai saat ini, konflik antara manusia dan orang utan masih saja terjadi.
"Potensinya bahkan cenderung meningkat karena orang utan kehilangan habitat yang merupakan rumah bagi mereka. Orang utan mencari makan ke kebun warga karena tidak punya pilihan lagi akibat rumahnya yang musnah. Kehilangan habitat dan konflik dengan orang utan meningkatkan risiko penularan penyakit antara manusia dan orang utan," katanya.
Dia menambahkan, jika ingin melindungi orang utan dan menjaga manusia dari pandemi, manusia harus menjaga ekosistem dan alam. "Kami berharap, melalui Hari Orang Utan Sedunia ini, manusia menyadari pentingnya hutan hujan bagi orang utan dan manusia itu sendiri," ujarnya.