Betapa sedihnya sang Ibu mendengarnya, namun hanya ditahan dalam hati.
Mereka melanjutkan perjalanan, Darmi bertemu dengan seorang laki-laki yaitu temannya yang lain. "Darmi kamu mau kemana?" tanya teman laki-laki tersebut.
"Aku mau ke pasar," jawab Darmi. Lalu temanya pun kembali bertanya kepada Darmi, "Ngomong-ngomong siapa di belakangmu? Dia ibumu?" Dengan segera Darmi langsung menjawab, "Bukan dia bukan ibuku, tetapi pembantuku," ucap Darmi.
Sungguh hati Ibu Darmi semakin sedih melihat anaknya yang begitu tega, mengakui dirinya sebagai pembantu. Namun sekuat tenaga dia berusaha menahannya.
Sampailah Darmi dan ibunya di pasar. Saat mereka akan memasuki pasar lagi-lagi dia bertemu dengan temannya yang lain. Darmi dan temannya melakukan pembicaraan yang sama seperti teman-teman sebelumnya, dan mengakui ibunya sebagai pembantu.
Ibu Darmi tak kuasa menahan air matanya, dia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dikatakan anaknya itu. Maka dia pun berdoa dalam hati.