Dia menjelaskan bahwa tanaman membutuhkan waktu untuk kembali menjalankan proses alami. Selain itu, kondisi pasir di kawasan Bromo juga perlu waktu untuk mengembalikan porositasnya.
"Kalau setiap hari dilalui dan dieksploitasi, tentu tidak ada waktu untuk pulih," katanya.
Kebijakan penutupan ini bukan hal baru. Sebelumnya, langkah serupa pernah dilakukan bahkan dengan durasi yang lebih panjang.
Namun, kebijakan tersebut sempat dihentikan saat jumlah kunjungan wisata menurun akibat pandemi Covid-19. Setelah kondisi kembali normal, lonjakan wisatawan membuat penutupan berkala kembali diterapkan.
"Setelah pandemi selesai, jumlah wisatawan kembali meningkat, sehingga penutupan berkala ini perlu kita terapkan kembali," ucapnya.
Selama masa penutupan, aktivitas wisata memang dihentikan sepenuhnya. Namun, kegiatan lain seperti konservasi, pemeliharaan, dan pembersihan kawasan tetap berjalan.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelestarian kawasan Gunung Bromo agar tetap menjadi destinasi unggulan tanpa merusak ekosistem yang ada.