Awalnya, kata dia pemilik hajat menawarkan ambulans untuk mengantarkan jenazah ke makam lewat jalan lain. Namun, karena adat istiadat desa harus melewati jalan terdekat untuk menuju makam Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
"Saya sebegai MC campur sari diundang sama yang punya gawe Pak Sunaryadi, guru SMP Taman Siswa punya hajat sudah lama menentukan Tanggal 8 Oktober. Terrnaya saat itu pukul setengah sebelas ada berita tetangga meninggal tepat di situ makam di Jolotundi harus melewati Pak Sunaryadi," ujar Memed di lokasi.
Dia menuturkan, sebelum keranda masuk melewati tenda, pembawa acara mengumumkan ada tetangga yang meninggal dan proses pemakaman melewati dalam tenda.
Mendengar informasi tersebut para tamu di dalam tenda menyingkir pulang dengan cepat. Sebagai kepercayaan tolak balak kedua pengantin, lanjut dia saat keranda lewat disediakan bambu panjang dan pengantin mengiring di belakang sambil menendang bambu.
"Lewat lebih jauh memutar 5 -6 kilometer, yang punya hajat sempat menawarkan ambulans untuk memutar. Saat itu ada pihak keluarga dan tokoh agama, bahkan adat istiadat di wilayah Jetis biasanya menuju kuburan ndak bisa memutar, ndak boleh untuk mempercepat jenazah," ucapnya.