"Kenapa kita bersiapnya yang terburuk, kalau terburuk sudah siap terampil, yang ringan itu menjadi cekatan," katanya.
Dwikorita juga mengatakan, BMKG tak bisa memprediksi seberapa kuat tinggi kekuatan gempa dan gelombang. "Itu sulit (kalau memprediksi kekuatan gempa dan tinggi tsunami), nggak seperti itu, yang penting ada peta. Kita tidak mengukur satu sampai 10 (kekuatan gempa)," katanya.
Sementara itu, Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, bila peta mitigasi bencana tsunami dan kegempaan yang dibuat BMKG dibuat berdasarkan kajian terburuk, karena banyak pertanyaan terkait jalur evakuasi dan kerawanan potensi tsunami dari BPBD di daerah.
Namun, dia menegaskan hal itu bukan memprediksi. Artinya, bisa saja tidak terjadi dengan kekuatan sebagaimana yang ada di peta mitigasi tersebut.
"Mau tidak mau BMKG membuat peta modelling itu. Nah peta itu dibuat dengan skala terburuk supaya apa, kita punya persiapannya, padahal belum tentu terjadi seperti itu. Contohnya dimodelkan tsunami di Banyuwangi itu 20 meter lebih, nyatanya tsunami 1994 hanya 13 meter," kata Daryono.
Namun, pihaknya menyayangkan peta mitigasi bencana tsunami dan kegempaan yang dibuat BMKG justru disalahartikan oleh sebagian besar masyarakat sehingga menyebabkan kepanikan.
"Itu dibuat dengan modelling, dibuat tingginya berapa di situ, supaya kita bisa menyiapkan bangunan yang tahan tsunami di atas itu, dibuat untuk menyiapkan skenario itu. Tapi responsnya kepanikan, tidak nyambung, disalahtafsirkan oleh masyarakat," katanya.