“PSBB memang seharusnya minimal 28 hari. Dua minggu pertama untuk evaluasi sebetulnya. Tapi dari segi penularan kasus minimal 28 hari,” ujarnya.
Windhu juga berharap PSBB dapat diterapkan secara tegas, sehingga jumlah pertumbuhan kasus segera turun. Sebab, selama penerapan PSBB di Surabaya, masih banyak masyarakat, khususnya di Surabaya yang tidak patuh atas penerapan PSBB.
"Semoga dilanjutkan dengan PSBB yang betulan, bukan PSBB abal-abal. Karena masih ada warga yang bergerak terus. Ini bisa berjalan jika masyarakat bersatu-padu,” ujarnya.
Windhu mengatakan, untuk menyukseskan PSBB, dibutuhkan peran dari semua pihak, termasuk masyarakat. Mereka dituntut lebih disiplin untuk mematuhi protokol kesehatan dan jaga jarak.