“Mayoritas pelajar Jawa Timur setuju dengan pernyataan bahwa belajar di sekolah, bertatap muka dengan guru lebih efektif dari pada belajar dari rumah, dengan prosentase 95,42 persen. Kemudian 3,33 persen tidak setuju, dan 1,25 persen menjawab tidak tahu,” katanya.
Saat diajukan pertanyaan bagaimana cara guru membimbing dalam proses pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi Covid-19, pelajar menjawab 66 persen guru hanya memberi tugas lalu dikumpulkan secara online; 14 persen belajar melalui aplikasi belajar online; 10 persen diskusi melaui grup chatting; lima persen melalui video call, dan sisanya tidak ada proses pembelajaran maupun tugas.
Lebih lanjut, dia menuturkan metode pembelajaran yang ideal di tengah wabah Covid-19 adalah Student Centered Learning (SLC), diskusi online, dan belajar dengan kuis. Kemudian media pembelajaran yang ingin digunakan adalah aplikasi belajar online dan video streaming.
Ahmad berharap, survei persepsi pelajar Jatim tentang dampak Covid-19 ini bisa menjadi referensi pemerintah dalam menentukan kebijakan terutama di bidang pendidikan. Stakeholder pendidikan mulai dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah hingga para guru dapat memformulasikan metode belajar yang efektif dan kreatif.
Sebagai informasi, survei ini melibatkan 480 Pelajar SLTP dan SLTA, dari 38 Kabupaten/Kota di Jatim. Periode pengambilan data dilaksanakan pada 28 Maret-11 April 2020. SCR menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
Tercatat 50 persen responden laki-laki dan 50 persen responden perempuan. Survei menggunakan teknik sampling multistage random sampling, margin of error 5 persen.