Siang itu, Waskito mengaku sempat berinisiatif menutup semburan menggunakan plastik. Bahkan, dia juga sempat menyumbatnya menggunakan kedua tangannya. Namun bukannya mampet, semburan lumpur malah muncul di titik lain.
“Aromanya tidak begitu menyengat. Saya mencoba pakai kedua tangan untuk menyumbat tapi tidak bisa. Tidak ada rasa panas, gatal atau perih. Itu tidak ada,” katanya.
Menurutnya, kondisi pekarangan yang kini berdiri rumah dinas pimpinannyatersebut telah ditempati sejak 1997 silam.
“Jadi ini rumah dinas pimpinan saya (Lisawati) PT Classic Prima Karpet. Beliau menempati (rumah) ini kurang lebih tahun 1997,” ucapnya.
Hanya saja, berdasarkan cerita warga, kawasan Kutisari memang sering terjadi semburan-semburan lumpur kecil. Bahkan, semburan kerap kali muncul di saluran-saluran air dan tanah kavling.
“Warga sering mengambilnya sebagai minyak bahan mentah. Diambil pakai handuk atau rumput alang-alang untuk disisihkan. Tadi malam, petugas PGN juga bilang ada kandungan gas metan dalam lumpur itu,” tuturnya. (ihya’ ulumuddin/yudha prawira)