“Jatim nomor satu se-Indonesia. Ini artinya apa? Ya masyarakat Jatim maupun Surabaya menerima perempaun sebagai pemimpin,” kata kepala Divisi Penelitian LP3ES 2005-2007 tersebut.
Hal sama ditegaskan Sekretaris DPD Lingkaran Pendamping Program Pemberdayaan (LPPP) Surabaya, Siti Nafsiyah. Menurutnya, figur perempuan masih dibutuhkan untuk memimpin Surabaya.
Apalagi, selama dua periode, Risma tak hanya membawa kemajuan bagi Surabaya, tapi juga dicintai warganya. “Itu realitas yang tak bisa dipungkiri, karena Bu Risma bisa melayani dan mengayomi warganya,” katanya.
Menurut Agung, kombinasi yang ideal yakni keterwakilan dari nasionalis-agamais. Sebab, secara geografis Surabaya tidak bisa dilepaskan dari belahan sosial antara kultur nasionalis dan agamais.
“PDIP, misalnya, bisa saja mencalonkan perempuan sebagai wali kota. Namun, kalau tidak, perlulah perempuan yang diusung menjadi wakil wali kota,” ujarnya.