“Artinya, gunung tersebut akan meletus setiap rentang tersebut. Apabila melewati itu, maka letusan berikutnya akan lebih besar karena telah terjadi akumulasi energi dalam waktu yang lama,” ujarnya.
Status Gunung Raung naik dari level normal (level I) menjadi waspada (level II) pada Jumat (17/7/2020) pukul 14.00 WIB. Masyarakat di lereng gunung diminta meningkatkan kewaspadaan akibat peningkatan aktivitas vulkanik ini.
Menurut Mirzam, data waktu tinggal ini berguna untuk melakukan mitigasi kebencanaan serta meningkatkan persiapan jika gunung tersebut akan meletus. Hal tersebut perlu menjadi catatan bahwa letusan Gunung Raung yang terakhir terjadi pada 2015. Artinya berjarak lima tahun lebih lama dari nilai prediksi maupun interval real yang hanya berkisar 2,5 hingga 2,8 tahun.
"Tak mengherankan jika saat ini Gunung Raung telah mencapai Level II dan telah mengeluarkan abu vulkanik," tuturnya.
Dia menambahkan, batuan penyusun Raung merupakan batuan basal yang memiliki kandungan SiO2 rendah. Karen aitu, lava Gunung Raung akan encer. Namun, karena adanya reaksi dengan batuan yang lebih tua berupa karbonat atau batu gamping, ini akan mengentalkan lava serta membuat material tersebut berpotensi dikeluarkan secara eksplosif.
"Apabila demikian dan letusan eksplosif terjadi, serta jika abu vulkanik telah muncul, masyarakat disarankan memakai masker yang sedikit dibasahi air guna menyaring abu tersebut agar tidak masuk serta menempel pada saluran pernapasan,” ucapnya.
Berdasarkan data Magma Indonesia, Gunung Raung merupakan salah satu gunung api aktif dengan ketinggian puncak mencapai 3.332 meter di atas permukaan laut. Gunung api ini merupakan gunung api strato berkaldera, dengan kawah utama Kaldera Raung. Kaldera Raung berbentuk elips.