"Tingkat konsumsi masyarakat di Jatim untuk komoditas bawang putih masih cukup tinggi, mencapai 62.880 ton, artinya masih defisit 55.927 ton," katanya.
Hadi mengakui, produksi bawang putih lokal, diakui masih belum maksimal. Hal ini karena konsumen lebih menyukai bawang putih impor yang memiliki ukuran lebih besar.
Selain itu, dari sisi harga, bawang putih impor hanya sekitar Rp15.000 per kilogram, sementara bawang putih lokal mencapai Rp50.000 per kilogram. Mahalnya bawang putih lokal ini karena harga benihnya juga mahal mencapai Rp65.000 per kilogram, sementara ketersediaan benih juga terbatas.
"Bawang putih ini juga merupakan tanaman subtropis sehingga dibutuhkan kondisi agroklimat khusus dan jadwal tanam yang tepat agar produktivitas optimal," katanya.