Prasasti Mantyasih I menyebut nama leluhur Medang sesudah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya ialah Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Sementara itu, Prasasti Wanua Tengah III menyebut, Rakai Panangkaran naik takhta pada 4 Oktober 746.
Pada prasasti ini Rakai Panangkaran dikisahkan telah menganugerahkan sawah di Wanua Tengah sebagai sima (tanah perdikan) untuk wihara di Pikatan yang dibangun oleh Rahyangta i Hara, adik Rahyangta ri Mdang. Dari analisis terdapat kesamaan tokoh antara Rahyangta ri Mdang dengan Sanjaya.
Rakai Panangkaran sendiri mengeluarkan Prasasti Kalasan pada tahun 778 tentang pendirian bangunan suci untuk Dewi Tara, atas permohonan para guru raja Sailendra. Pada prasasti itu, namanya tertulis Mahaarjam Dyah Pancapaņam Paņamkaraņam, hasil pembacaan ilmuwan FDK Bosch atau Maharajam Tejah Purņapanna Panamkaraņām, sedangkan pada bagian akhir tertulis Kariyana Panamkaranah.
Selain itu, ada pula kata yang berbunyi sailendrawamsatilaka (permata Dinasti Šailendra) dalam prasasti itu. Selanjutnya ada Prasasti Kelurak (26 September 782) yang menyebut kata dharanindranamna. KDK Bosch menafsirkan, bahwa raja yang mengeluarkan prasasti ini bernama Dharanindra.
Tetapi, sejarawan JG de Casparis mengoreksi bahwa tidak ada nama Dharanindra karena pembacaan yang benar ialah dharanindharena, yang bermakna "oleh raja". Adapun nama raja dalam prasasti itu ialah Śrī Sanggrāmadhananjaya, yang berjuluk wairiwarawirawimardana atau pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira.
Beberapa sejarawan dan arkeolog berpendapat bahwa, Rakai Panangkaran adalah raja Dinasti Sanjaya (Sanjayawangsa) beragama siwa yang menjadi bawahan raja Dinasti Sailendra atau Sailendrawangsa yang beragama Buddha.
Dari uraian Prasasti Kalasan tahun 778 dapat ditafsirkan bahwa Rakai Panangkaran diperintah oleh raja Sailendra untuk mendirikan bangunan suci Buddha. Adapun raja Sailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran diperkirakan sama dengan Srī Sanggrāmadhananjaya yang mengeluarkan Prasasti Kelurak pada tahun 782.