Korban dipaksa meminum pil penggugur kandungan untuk aborsi. Tak hanya itu, korban juga selalu diteror. Akibatnya, korban kalut dan depresi hingga memilih mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun. Di dekat mayat korban terdapat botol berisi cairan yang diduga mengandung racun.
Indikasi pemerkosaan dan aborsi tersebut diketahui dari percakapan korban dengan seseorang di WhastApp yang viral di media sosial. Pada curhatan itu, korban menceritakan bahwa dirinya tengah hamil dan telah menggugurkan kandungannya.
"Nggak ngubur janinnya. Nggak meriksain saya," katanya.
Pada percakapan selanjutnya, korban juga menulis keluh kesahnya kepada seseorang yang diduga orang tua pacar korban. "Salah ta ma lek crita, lek dihamili anaknya mama?"
Namun curhatan tersebut mendapat tanggapan ketus dari seseorang tersebut. "Itu lho urusan pribadi kamu," katanya.
Menanggapi hal itu, korban terlihat hanya pasrah dan menyampaikan klarifikasi bahwa keluh kesah itu disampaikan karena seseorang tersebut orang tua pacarnya.