Mustofa mengaku punya cita-cita jadi chef. Dia berharap, ketika bebas nanti ada rumah makan atau warung yang mau mempekerjakannya.
Jika tidak ada, dia akan mencoba mendirikan warung sendiri. “Kemarin sudah belajar bikin ayam geprek, minggu depan saya ingin belajar menu yang beda lagi,” kata dia.
Sementara Kepala Bidang Kegiatan Kerja sekaligus Plh Kalapas Kelas 1 Surabaya, Sumardi mengatakan cooking class menjadi bentuk pemberdayaan WBP yang baru di Lapas Porong. Dia berharap, dengan mengajarkan dan mengenalkan industri kuliner, WBP bisa mandiri.
“Sebagai bagian dari training, kami akan fasilitasi dengan membuka warung milik Giatja di dalam Lapas. Sehingga mereka bisa praktik langsung dan mengajari WBP yang lain,” kata Sumardi.
Sementara itu, Kabid Usaha Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo, Erna Kusumawati mengungkapkan akan memberikan pendampingan kepada WBP. Dia memastikan agar WBP benar-benar siap sebagai wirausahawan.
“Jadi tidak langsung dilepaskan, tapi dikawal hingga mereka benar-benar siap,” kata dia.
Chef Muawaluyo Tsamara sebagai mentor mengungkapkan, dirinya sangat senang mengajarkan materi kepada WBP. Menurutnya WBP lebih fokus daripada muridnya di SHS.
“Saya kaget, saya kira penghuni lapas itu orangnya seram-seram, ternyata sangat mengasikkan,” kata dia.