Konflik Sampit, Sejarah Perseteruan Dayak dan Madura hingga Penyelesaiannya

Rizky Agustian
Ilustrasi konflik Sampit antara suku Dayak dan Madura. (Foto: Maspuq Muin/iNews.id)

Kongres Rakyat Kalimantan Tengah (KRKT) pun digelar di Palangka Raya pada 4-7 Juni 2001. Peserta kongres dari Dayak garis keras dan Dayak garis lemah.

Keduanya memiliki pendapat yang saling berlawanan. Dayak garis keras menolak etnis Madura untuk kembali, sedangkan Dayak garis lemah memperbolehkan namun dengan beberapa persyaratan yang dipenuhi.

Akhirnya kedua etnis sepakat berdamai. Warga Madura yang mengungsi diperbolehkan kembali ke Kalimantan Tengah. Namun, Pemprov Kalimantan Tengah saat itu menerbitkan Perda Nomor 5 Tahun 2004 yang mengatur permasalahan pengungsi konflik Sampit.

Peraturan itu memuat beberapa poin, salah satunya warga Madura yang kembali ke Kalimantan Tengah harus menjunjung tinggi falsafah "Belom Bahadat" dan "di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Pada tahap awal pemulangan, warga Madura yang berprofesi sebagai anggota DPRD, mahasiswa, dosen, dan PNS menjadi yang pertama kali dipulangkan ke Kalimantan Tengah. Sebab, mereka dipandang bukan sebagai pihak yang berpotensi menyebabkan kerusuhan susulan.

Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Identitas Pedagang Cilok Ditemukan Tewas di Kontrakan Cikupa, Perantau asal Madura

57 tahun lalu

Tradisi Toron Idul Adha, Ribuan Warga Madura Padati Jembatan Suramadu Surabaya

57 tahun lalu

Emosi saat Bercanda, Pria di Sampang Madura Pukul Tetangga Pakai Cobek

57 tahun lalu

Kecelakaan di Jalur Mudik Suramadu, Truk Tabrak Sedan Bawa Satu Keluarga

57 tahun lalu

Panglima Jilah Temui Jokowi di Solo, Tanya Realisasi Dayak Center di IKN

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal