Sementara itu, Prasasti Sojomerto di Batang menguatkan identitas Hindu Siwaisme dalam masyarakat Kalingga. Namun Berita China menyebut rakyat Kalingga beragama Buddha.
Menurut Berita China, pendeta Hwi-ning dari Tiongkok datang ke Kalingga tahun 644. Tujuannya menerjemahkan kitab suci Buddha Hinayana ke dalam Bahasa China.
Dalam penerjemahan itu, Hwi-ning dibantu pendeta Kalingga bernama Janabadra. Fakta ini memperkuat dugaan eksistensi Buddha di wilayah Kalingga.
Hubungan ini memperlihatkan bahwa Kerajaan Kalingga terbuka dalam pertukaran budaya dan agama sejak abad ke-7 Masehi.
Kartikeyasingha menikah dengan Ratu Jay Shima dan memiliki dua putra: Parwati dan Narayana (Iswara). Parwati menikah dengan Rahyang Mandiminyak dari Galuh.