Ketika hampir tertangkap oleh Mahisa Mundarang, Raden Wijaya memancal tanah basah yang terbajak. Tanah basah itu jatuh pada dada dan dahi Mahisa Mundarang. Lantaran terlihat, Kebo Mundarang mundur kembali.
Raden Wijaya pun terus berlari menghindar dari kejaran musuh. Semuanya serba kotor kena lumpur. Setelah beristirahat, Raden Wijaya bertukar pakaian dan semua para pengikutnya diberi pakaian.
Pemberian itu ialah cawet geringsing. Mereka yang menerima pemberian itu bertambah besar semangat juangnya. Mereka percaya bahwa mereka pasti akan menang.
Sore hari, mereka kembali menuju Singasari. Lembu Sora, Gajah Pegon, Medang Dangdi, Mahisa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kapetengen, Wirota, Wiragati, dan Pamandana berjalan di muka sebagai pasukan penggempur.
Mengenai lambang (china) yang berupa wilma atau maja, uraiannya terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama IV.