Ceceran air mulai dari wilayah Gunung Kelud menuju arah selatan menjadi tapal batas dua wilayah kerajaan baru.
Pertama, Kerajaan Panjalu atau Daha dengan ibu kota Kadiri dengan raja Sri Samarawijaya. Kemudian Kerajaan Jenggala yang berpusat di kota lama, Kahuripan, diperintah saudaranya yang bernama Mapanji Garasakan.
Peristiwa pembelahan dua kerajaan ini berlangsung pada 1042. Namun tapal batas gaib melalui perantara Mpu Bharada tidak mampu mencegah bahaya pelanggaran aturan kedewataan.
"Tidak lama sesudah Airlangga meninggal dunia ini, terjadilah pertempuran antara dua negara ini: Daha dan Jenggala,” tulis R. Moh Ali. S.S. dalam “Perdjuangan Feodal Indonesia”.
Prasasti Turunhyang B yang dikeluarkan Raja Jenggala Mapanji Garasakan pada 1044 (966 saka), menceritakan perang saudara tersebut. Daha atau Panjalu dengan Jenggala berperang.