Kisah Djuwari Pemikul Tandu Jenderal Sudirman saat Bergerilya di Hutan Belantara

Nanang Sobirin
Djuwari, salah satu pemikul tandu Jenderal Sudirman saat bergerilya di belantara hutan Jawa Tengah hingga Jawa Timur.. (Foto: Istimewa)

Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan seperti saat memanggul tandu Jenderal Sudirman. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. 

Sorot matanya masih menyala. Menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan. Sang pemanggul tandu Jenderal Sudirman itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. 

Mata manusia dan semilir angir bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.

Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman, panggilannya kepada sang jenderal, adalah kebanggaan luar biasa. Dia mengaku tugas itu merupakan pengabdian yang dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apa pun.

"Dulu gotong tandunya gantian, Mas. Kira-kira ada orang tujuh. Yang ikut manggul dari Goliman adalah Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) dan Djoyo dari (warga Goliman)," katanya.

Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Sudirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi dengan dikawal banyak pria berseragam. 

Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa. 

"Dari Bajulan (Nganjuk), saya dan pemikul lain terus balik ke Goliman. Waktu itu dikasih kain dan sarung,” ujarnya.

Menurut Djuwari, istrinya yang kini telah meninggal dunia amat senang menerima kain pemberian sang jenderal. Saking seringnya dipakai, kain sarung itu akhirnya rusak.

Kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya. "Pak Dirman pesan, hidup itu harus rukun, sama tetangga saling sapa, satu desa harus rukun semua," katanya.

Sepanjang hidupnya menjadi mantan pemanggul tandu Jenderal Sudirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu sang panglima besar. 

Djuwari bercerita, pernah suatu kali dirinya diberi uang Rp 500.000. Setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto. Sesekali dia menerima bantuan beras. 

Editor : Reza Yunanto
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Pilu! Ibu di Sukabumi Ditandu ke RS, Bayi Baru Dilahirkan Meninggal Dunia

57 tahun lalu

Viral Kisah Pilu di Kerinci, Puluhan Warga Tandu Jenazah Sejauh 10 Kilometer di Kerinci

57 tahun lalu

Kisah Pilu dari Mamasa, Pasangan Lansia Sakit Parah Ditandu 8 Km ke RS akibat Jalan Rusak

57 tahun lalu

Hari Juang Infanteri, Simbol Kejayaan dan Kemuliaan Korps Terbesar di TNI AD

57 tahun lalu

Hari Juang TNI AD, Kasdam Diponegoro ke Prajurit: Pegang Teguh Komitmen Netralitas TNI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal