Shalat itu membangun jiwa. Karena dengan shalat itu tanha ‘anil fakhsya’i wal munkar., mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
Di dalam lagu Indonesia raya, ada bait yang berbunyi “Bangunlah jiwanya, bangunlah badanya”. Pengarang lagu ini, WR Supratman, tentu tidak sembarangan meletakan kalimat bangunlah jiwanya lebih dahulu dibandingan dengan membangun badan, bangunlah badanya.
Kenapa? Karena membangun jiwa itu jauh lebih sulit dari pada membangun badan. Membangun badan itu membangun fisik, membangun infrastruktur, membangun jalan, mudah, membangun gedung mudah. Sebentar lagi, anggota DPR mungkin punya gedung baru, yang menurut berita anggaranya lebih dari lima triliun untuk membangun gedung parlemen. Mungkin, satu dua tahun segera terwujud itu gedung.
Tetapi bagaimana membangun jiwa penghuni gedung tersebut, agar menjadi wakil-wakil rakyat yang amanah, yang jujur, yang iklash, yang tidak korup, yang tidak suka suap-suapan, tentu bukan perkara gampang. Tidak semudah membangun gedungnya. Maka jangan heran kalau banyak yang tertangkap. Membangun gedung pengadilan, gampang. Tapi membangun jiwa para pengadil, orang yang seharusnya berbuat adil, malah ketangkap. Ini tentu yang rusak bukan gedungnya. Tapi yang rusak adalah jiwanya.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Karena itu, untuk membangun Indonesia ini, mau tidak mau kita harus cinta dengan NKRI. Harus mencintai Tanah Air. Maka kemudian kita masyarakatkan jargon hubbul wathon minal iman, cinta tanah air bagian daripada iman.