Menurutnya, hal inilah yang perlu diketahui masyarakat. Meski aktivitas gempanya tidak terlalu signifikan, hal itu bisa terjadi kapan saja.
"Ini yang perlu disampaikan kepada masyarakat, dengan gempa-gempanya yang tidak terlampau signifikan, tapi ini bisa kapan saja terjadi dan ini sudah terbukti tanggal 9 Februari terjadi awan panas 1,500 meter," ujarnya.
Hendra menyebut banyak pihak yang berpendapat jika awan panas tersebut akibat adanya curah hujan. Sebab itu PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Semeru agar waspada dengan mengikuti perkembangan dari gunung api tersebut.
"Masyarakat di sekitar Gunung Semeru terutama ke arah Sungai Kobokan agar terus mewaspadai dengan mengikuti perkembangan," ujarnya.
"Selain dari historisnya yang berpotensi bahaya, dari data-data dan hasil moderenisasi peralatan yang baru dipasang, baru sekarang tergambarkan apa yang terjadi. Sekarang, gempa-gempa selama berapa berapa bulan, bahkan minggu belakangan ini memang ada sumber magma pada kedalaman kilometer," ucapnya lagi.
Hendra pun memandang jika saat ini Gunung Semeru dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Sebetulnya parameter semua positif, gunung sedang tidak baik baik saja. Hanya yang perlu ditekankan antisipasi kalau ini awan panasnya bisa mencapai sampai jarak yang jauh," ucapnya.