"Bersama-sama di sini saat ini hadir pengurus PBNU dan PWNU se Indonesia. Semuanya kita ajak menghayati dan menangkap energi spiritual yang telah melahirkan NU sebagai kekuatan peradaban," kata Gus Yahya.
Gus Yahya sendiri sempat tampak emosional dan berkaca-kaca saat mengenang sejarah gedung PCNU Kota Surabaya ini. “Tidak ada artinya jika benih yang dulu ditanam para muassis (pendiri NU) jika kita tidak merawatnya. Kita harus memelihara kesentosaan pohon besar itu. Mohon maaf saya terlalu sentimental,” kata Gus Yahya sambil berkaca-kaca.
Sementara itu, pernyataan Gus Yahya tentang pembuatan museum di Gedung PCNU Kota Surabaya ini sekaligus menjawab pernyataan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang meminta izin kepada Gus Yahya untuk menjadikan Kantor PCNU Kota Surabaya sebagai museum.
"Kami mohon izin, gedung ini kalau boleh akan kami dijadikan museum. Nanti kantor PCNU dipindahkan, biar perawatan gedung ini bisa terjaga," kata Eri Cahyadi.
Dalam kesempatan ini, Eri juga meminta izin pada Gus Yahya agar muktamar Nahdlatul Ulama mendatang bisa digelar di Surabaya. "Saya izin kalau nanti satu abadnya NU, Muktamar dilakukan di Surabaya kami siap lahir batin. PBNU-nya kembali ke Surabaya," ujar Eri.
Sekadar diketahui acara tahlilan mengenang hari lahir 99 tahun NU yang digelar di Gedung PCNU Bubutan kali ini dihadiri puluhan Pengurus PBNU serta para pengurus PWNU se Indonesia.
Usai tahlilan di kantor PCNU Kota Surabaya, rombongan lantas menuju ke Pesantren Syaichona Cholil Bangkalan untuk mengikuti puncak Harlah NU ke-99.