"Saya berpikir, lebih baik ada pihak yang netral lah. Saya bahkan pengen ngajak beberapa orang lagi. Yang berpengaruh dan punya massa untuk tidak berpihak. Itu bagus," katanya.
Selain ingin menjaga keutuhan bangsa dari perpecahan antarkelompok, Gus Sholah juga sedang mengemban misi besar. Menjaga kehormatan Jamiyah NU dari kepentingan politik praktis.
Sikap bijak inilah yang membuat Gus Sholah welcome dengan kubu mana pun. Termasuk saat Gus Sholah mempersilahkan Prabowo berkunjung dan memimpin upacara peringatan Hari Santri di Pesantren Tebuireng, 22 Oktober lalu.
Kendati demikian, sikap ini justru dipolitisisasi oleh pihak tertentu, bahwa Gus Sholah mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Opini ini menyebar luas di media sosial. Lengkap dengan foto bersama Gus Sholah dan Prabowo serta sejumlah dzurriyah NU.
Agar terlihat sempurna, alasan pembenar pun dibuat. Pertama adalah pertemuan Gus Sholah dengan Prabowo dan Sandi yang diikuti beberapa dzurriyah NU lainnya. Kedua, adalah adanya halaqoh ulama dan dzurriyah NU hingga terbentuknya Komite Khittoh. Sebab, sebagian besar orang-orang dalam komite khittah mendukung Prabowo. Antara lain, tokoh Ansor Jatim Chorul Anam (Cak Anam) dan Gus Hasib Wahab Chasbullah.