Inisiasi ITS untuk memfasilitasi para mahasiswa Untad berkuliah sembari menunggu fasilitas kampus mereka diperbaiki ini, ditanggapi baik oleh para rektor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan, lebih dari 30 universitas yang menyatakan kesanggupannya untuk menerima juga mahasiswa Untad.
Kemudian pada 1 Oktober 2018, Rektor Untad juga sudah mengeluarkan surat imbauan kepada para mahasiswanya bahwa perkuliahan tidak diberhentikan secara total. Mereka dapat menempuh perkuliahan dengan pendekatan blended learning, distance learning, serta melalui perguruan tinggi di bawah koordinasi Majelis Rektor dan Forum Rektor dengan sistem sit-in di perguruan tinggi yang berkenan menerima mahasiswa Untad.
Selain bantuan pendidikan ini, ITS juga sudah menyiapkan bantuan yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama berupa bantuan logistik untuk mengatasi kondisi darurat awal. Kemudian tahap kedua, yaitu tahap pemulihan infrastruktur yang juga sudah diterapkan pada bencana gempa bumi di Lombok.
“Tahap pemulihan itu mereka (para korban) tidak lagi bicara logistik tapi lebih ke infrastruktur. Nanti mungkin dari situ kita mencoba melihat kondisi di lapangan,” kata Joni.
Menurut Joni, keadaan di Palu berbeda dari kondisi bencana yang ada di Lombok. Sebab, selain terjadi gempa, tanah di kota itu juga ambles ke dalam. Belum lagi ditambah dengan tsunami sehingga membawa air dan lumpur yang kemudian menimbun bangunan-bangunan infrastruktur di sana. “Kondisi tersebut agak sulit sehingga untuk bantuan berupa infrastruktur tidak bisa kami tentukan sekarang,” kata Joni.
Selain itu, sama halnya dengan gempa di Lombok, ITS sudah mengalokasikan dana sebesar Rp200 juta. Dana ini diperuntukkan membantu masyarakat yang menjadi korban bencana alam yang sangat memilukan tersebut.