"Pada kasus kapal selam KRI Nanggala ini, harus dilihat dari beberapa sisi. Apakah akibat media air yang resultannya nol ataukah kerusakan peralatan teknis," kata Wisnu.
Mengenai ditemukannya ceceran minyak di lokasi penyelaman KRI Nanggala, Wisnu menduga bisa jadi minyak itu merupakan minyak dari bahan bakar kapal selam TNI AL itu. Di dalam kapal selam, desain konstruksi ada yang namanya tangki pemberat atau ballast tank.
Untuk kapal selam yang didesain tahun 1980-an, kedalaman yang memungkinkan adalah 380 meter, tapi sekarang kemungkinan itu hanya 300 meter.
"Jika dipaksa lebih dari itu, tangki pemberatnya ini seperti diremas karena ada gaya hidrostatik dari air yang meremas kapal selam. Kalau sampai ada oli dan cairan minyak di permukaan air ini, indikasi tangki pemberatnya rusak," katanya.
Wisnu menambahkan jika sudah di kedalaman 300 meter strukturnya mulai berbunyi dan kolaps, lalu tangki rusak dan semua minyak keluar. Karena itu, semua penyebab harus diidentifikasi, apakah kesalahan sistem, mesin, atau pengemudi.