“Sejauh ini seperti tadi saya sampaikan data kita angka kesembuhan itu jauh lebih tinggi daripada angka konfirmasi positif. Tapi kita memang tidak boleh ceroboh. Tidak boleh kemudian ada reborn atau kembali,” ujarnya.
Menurut Risma, kebijakan pengawasan protokol kesehatan diprioritaskan untuk komunitas kecil seperti rumah makan, warung kopi dan sejenisnya. Karena, menurutnya tenaga kelurahan serta Babinkamtibmas dan Babinsa sangat terbatas untuk mengawasi komunitas besar.
“Yang kita jaga memang di komunitas kecil seperti di warung kopi, di restoran kemudian di mall. Itu yang kita jaga. Kita memang harus disiplin di situ. Karena kalau (komunitas) besar terlalu berat kita. Tenaga kita juga gak ada,” katanya.
Risma mengatakan, sekarang ini 900 lebih kamar di rumah sakit kosong, begitu juga ICU dan 58 kamar yang ada ventilatornya. Ini terajadi karena sejumlah pasien Covid-19 yang dulu dirawat telah sembuh.
“Tinggal 500-an pasien yang karantina di rumah dan di rumah sakit. Sebetulnya 75 persen pasien itu sudah negatif, tetapi belum bisa dikeluarkan karena masih menderita penyakit yang menyertainya. Mudah-mudahan ini bisa segera selesai, sehingga ekonomi Surabaya segera pulih kembali,” katanya.