“Selama 106 tahun tugas pemerintah juga telah banyak diringankan oleh keluarga besar Muhammadiyah dalam mendidik bangsa. Lebih dari 5.000 sekolah, lebih dari 67 pesantren, lebih dari 170 perguruan tinggi didirikan oleh keluarga besar Muhammadiyah,” tutur Presiden.
Presiden menilai, kontribusi Muhammadiyah bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas. Perguruan Tinggi Muhammadiyah selalu menjadi unggulan di semua kota besar di seluruh Indonesia.
“Supaya tahu saja, Bu Jokowi juga dulu kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta, tapi baru semester 6 sudah saya ajak kawin,” tambah Presiden yang disambut tawa para hadirin.
Presiden pun meminta agar perguruan tinggi Muhammadiyah siap menghadapi perubahan yang sekarang ini dilihat begitu cepat dan menjaga persatuan, serta persaudaraan. “Jangan sampai karena pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, dan pilihan presiden, kita lupa bahwa aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kerukunan, persaudaraan. Marilah kita jaga ukhuwah islamiah kita, ukhuwah wathaniah kita,” kata Presiden.
Diketahui, ada enam sekolah tinggi Muhammadiyah yang berubah statusnya menjadi universitas. Keenamnya ada di Kudus, Wonosobo, Jakarta, Serang, Sorong dan Lamongan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menyatakan, nama Ki Bagus Hadikusumo dipilih karena merupakan tokoh Muhammadiyah yang juga penentu sila pertama Pancasila sekaligus tokoh yang menghormati keberagaman di Indonesia.
“Kami yakin pertarungan terbesar untuk bangsa dalam pertarungan global ini mau tidak mau adalah pendidikan. Di samping pendirian perguruan tinggi baru akan dilakukan sesuai ketentuan di pemerintah mudah-mudahan Allah memberkahi,” ujar Haedar.