Kedua, keberadaan Thohir merekonfigurasi citra kandidat di kubu Jokowi usai pemilihan KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Penetapan Kiai Maruf oleh sebagian publik ditangkap sebagai upaya Jokowi mengamankan elektabilitasnya dengan merangkul kelompok Islam tanpa memperhitungkan kemampuan menjawab tantangan bangsa dalam beberapa tahun mendatang.
Kiai Ma'ruf hanya dinilai sebagai tokoh agama yang dianggap belum tentu cakap mengelola berbagai tantangan bangsa, terutama ekonomi. "Thohir sebagai ketua tim kampanye pasti berperan menonjol sehingga akan mampu merekonfigurasi citra kandidat, terutama dalam konteks menghadapi tantangan ekonomi. Erick bisa tampil berbicara banyak soal itu," kata Aprizaldi.
Ketiga, yakni memainkan fungsi penguatan infrastruktur politik, termasuk logistik. Publik mengenal Thohir sebagai pengusaha sukses. Keluarganya juga merupakan salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Bersama sang kakak Garibaldi Thohir, mereka mengendalikan banyak perusahaan kakap di Indonesia.
"Pemilihannya juga berpotensi mengganggu sumber logistik Sandiaga karena antara Erick dan Sandiaga punya banyak irisan jaringan bisnis," ucapnya.
Sementara dari sisi komunikasi politik, Aprizaldi menilai Thohir sebagai sosok yang komplet. Dia mengungkapkan, setidaknya terdapat tiga faktor penting dalam komunikasi politik, yaitu membangun kepercayaan (trustworthiness), keahlian (expertise), dan daya tarik.
"Keterpercayaan terkait penilaian terhadap sebuah sumber yang dianggap memiliki integritas. Keahlian berkaitan dengan kompetensi dan pengalaman. Daya tarik berkaitan dengan potensi sumber menjadi pusat perhatian. Itu semua ada pada sosok Thohir," tuturnya.
Diketahui, SCG Consulting merupakan lembaga riset yang terlibat dalam sejumlah pemenangan kandidat politik, di antaranya yakni Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.