BLITAR, iNews.id - Ritualjamasan atau siraman pusaka gong Kiai Pradah di Kabupaten Blitar digelar sederhana di gedung sanggar penyimpanan pusaka, Lodoyo, Kamis (21/10/2021). Ritual jamasan juga tidak digelar di atas menara alun-alun Lodoyo seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pademi Covid-19 menjadi alasannya. Pemerintah Kabupaten Blitar sengaja tidak menggelar acara jamasan di atas menara alun-alun untuk menghindari kerumunan. Selain itu, pemkab juga membatasi jumlah pengunjung yang berburu berkah air bekas jamasan, terutama mereka yang berusaha mendekat di gedung sanggar penyimpanan pusaka.
Bupati Blitar Rini Syarifah juga berhalangan hadir dan digantikan Wakil Bupati Rahmat Santoso. "Bupati lagi di Jakarta mas, ada acara Apkasi," kata Wabup Blitar Rahmat Santoso Kamis (21/10/2021).
Pusaka gong Kiai Pradah atau Kiai Bicak merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Pada awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam (1584). Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati pernah memakainya untuk siasat bertempur melawan pasukan Pajang.
Pertempuran antara Mataram dan Pajang berlangsung di wilayah Prambanan. Gema canang Kiai Bicak yang bertalu-talu, ditambah kobaran api yang berasal dari tumpukan kayu yang sengaja dibakar, serta Gunung Merapi yang kebetulan erupsi, membuat nyali prajurit Pajang ciut.