Informasi yang dihimpun, kemarahan massa terjadi karena keinginan mereka untuk menggelar sidang rakyat di ruang Paripurna DPRD Jatim ditolak. Polisi tidak menyetujui karena alasan keaman. Apalagi, gedung DPRD merupakan objek vital.
Sementara itu, pengamanan di sekitar lokasi terus ditingkatkan. Pasukam antihuruhara disiagakan di depan, menggantikan polisi wanita yang semula berjaga.
"Iya, ini tadi ada lemparan batu dan kayu. Ada juga kapak. Kami yakin ini bukan ulah adik-adik mahasiawa. Tetapi provokator," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera.